Sang Mursyid berkata “sekarang antum tulis amalan-amalan yg akan antum lakukan dibulan ramadhan”  setelah 10 menit kemudian Mursyid datang dan berkata “sok tum, antum baca amalan antum” aku mulai membaca amalan yg sebelumnya aku tulis dengan perlahan dan panjang lebar.

Kemudian Mursyid berkata ” sekarang antum tulis Inilah amalan-amalan orang pemalas dan egois” Silahkan maknai tulisan itu..

Aku bengong dan terdiam sejenak sambil memikirkan tulisan terakhir yg aku tulis.. (apa ada yg salah yah ? kok pemalas dan egois ?) sambil merenung..

Kemudian Mursyid memberi syarah, Itu semua amalan antum yg antum tulis itu buat antum sendiri tapi mana antum untuk orang lain ??  mana keinginan antum untuk mengajak orang lain kebaikan ?

Kemudian antum menulis mau berishadaqah Rp. 5000 sehari, apa bedanya antum shadaqah dengan orang lain ? kalau masih sama dengan orang lain ngapain antum jadi murid ana  ?

Orang lain bisa lebih dari itu, orang-orang kaya mereka mampu mebagi-bagikan lebih dari itu tapi apa istimewanya ?? tidak ada yg istimewa!! bagaimana mau merasakan puasa secara khusus tapi kelakukan antum seperti itu, klo memang dengan memberikan shadaqah lebih besar lebih baik, mungkin tukang angkut sampat gakkan masuk surga  karena surga dipenuhi orang-orang kaya..

Orang bershadaqah harus memiliki nilai Taqwa dan Wara, kebanyakan orang beribadah hanya Taqwa saja tapi tidak ada Wara nya..

Contoh amalan yg mengandung amalam Taqwa dan Wara : antum punya uang tinggal 50 ribu itu juga untuk makan keluarga antum esok hari, tiba-tiba datang saudara antum yg membutuhkan bantuan dan antum memberikan uang itu kepada saudara antum, nah disitu akan muncul Taqwa dan Wara..

Amalan ibadah itu harus menantang bukan hanya biasa-biasa saja, karena itulah amalan-amalan orang khusus..

(Kemudian bergetar jiwa ini..)

VN:F [1.6.8_931]
Rating: 9.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.8_931]
Rating: +1 (from 1 vote)