<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>www.widianto.org &#187; Konsep Teknologi</title>
	<atom:link href="http://www.widianto.org/category/kuliah/konsep-teknologi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.widianto.org</link>
	<description>Situsnya orang biasa</description>
	<lastBuildDate>Sat, 28 Aug 2010 20:23:42 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Konsep Teknologi Plastik</title>
		<link>http://www.widianto.org/2009/03/23/konsep-teknologi-plastik/</link>
		<comments>http://www.widianto.org/2009/03/23/konsep-teknologi-plastik/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Mar 2009 04:20:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Konsep Teknologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.widianto.org/2009/03/23/konsep-teknologi-plastik/</guid>
		<description><![CDATA[PENDAHULUAN Pengemasan telah ada sejak 4000 SM, dimulai dengan kemasan alami yang berasal dari bahan-bahan yang terdapat di alam seperti tanah liat, tulang, kulit binatang, buluh bambu, pelepah dan daun-daunan. Pada awalnya pengemasan dilakukan untuk mengatasi aspek penanganan pangan. Pada zaman kehidupan manusia masih mengembara (nomaden), apapun yang mereka peroleh dari perburuan hewan dan tanaman [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PENDAHULUAN<br />
</strong></p>
<p><span style="color:black">Pengemasan telah ada sejak 4000 SM, dimulai dengan kemasan alami yang berasal dari bahan-bahan yang terdapat di alam seperti tanah liat, tulang, kulit binatang, buluh bambu, pelepah dan daun-daunan. Pada awalnya pengemasan dilakukan untuk mengatasi aspek penanganan pangan. Pada zaman kehidupan manusia masih mengembara (nomaden), apapun yang mereka peroleh dari perburuan hewan dan tanaman liar biasanya dikonsumsi hingga persediaan di suatu lokasi habis. Lalu mereka berpindah ke tempat lain dengan membawa bekal makanan sekedarnya yang dikemas dalam kemasan alami yang mereka temukan pada saat itu di sekitar lokasi pemukiman mereka.<span id="more-780"></span><br />
</span></p>
<p style="text-align: center"><img src="http://www.widianto.org/wp-content/uploads/2009/03/032409-0420-konseptekno1.jpg" alt="" /><span style="color:black"><br />
<span style="font-size:9pt"><em>Pengemas Alami, Daun Pisang</em></span></span></p>
<p>Dengan adanya revolusi neolitik, yaitu titik waktu dimana manusia beralih ke keadaan hidup menetap dengan mengembangkan pertanian dan pemeliharaan hewan, mulailah terjadi pergeseran falsafah pengemasan. Aspek penanganan tidak lagi hanya sekedar untuk memudahkan transportasi, tetapi juga untuk memudahkan distribusi dan pengolahan.</p>
<p>Teknologi pengemasan berkembang dengan pesat sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban manusia. Revolusi industri yang telah mengubah tatanan hidup manusia ke arah kehidupan yang lebih modern, telah pula mengubah teknologi kemasan hingga mencakup aspek perlindungan pangan (mutu nutrisi, cita rasa, kontaminasi dan penyebab kerusakan pangan) dan aspek pemasaran (mempertahankan mutu, memperbaiki tampilan, identifikasi produk, informasi komposisi dan promosi). Saat ini meskipun kemasan alami masih juga digunakan, namun telah banyak berkembang kemasan yang termasuk dalam kelompok kemasan sintetis dan kemasan modern. Berbagai jenis material kemasan sintetis bahan pangan yang beredar di masyarakat, misalnya kertas, kaca, kaleng dan plastik mempunyai keunggulan dan kelemahan tertentu, sehingga penggunaannya juga didasarkan pada kecocokan dengan sifat bahan pangan yang dikemas. Kemasan modern yang telah digunakan untuk mengemas bahan pangan antara lain kemasan aseptik, kemasan dengan variasi atmosfir di dalamnya atau kemasan yang diaplikasikan dengan penyimpanan suhu rendah, baik sebagai pengemas primer (langsung kontak dengan bahan yang dikemas) maupun sekunder, tertier dan seterusnya.</p>
<p style="text-align: center"><img src="http://www.widianto.org/wp-content/uploads/2009/03/032409-0420-konseptekno2.jpg" alt="" /><span style="color:black"><br />
<span style="font-size:9pt"><em>Pengemas berlapis-lapis</em></span></span><span style="font-size:9pt"><em><br />
</em></span></p>
<p><span style="color:black"><br />
<strong>DAMPAK POSITIF DARI PLASTIK<br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:black"><br />
Perkembangan ilmu pengetahuan telah meningkatkan kesadaran manusia untuk hidup sehat. Hal itu telah mengembangkan fungsi teknologi pengemasan pangan menjadi lebih luas, yaitu untuk:<br />
1.Menjaga produk pangan agar tetap bersih, terlindung dari kotoran dan kontaminasi.<br />
2.Menjaga produk pangan dari kerusakan fisik, perubahan kadar air dan pengaruh sinar.<br />
3.Memudahkan dalam membuka/menutup, memudahkan dalam penanganan, pengangkutan dan distribusi.<br />
4.Menyeragamkan produk pangan dalam ukuran, bentuk dan bobot yang sesuai dengan standar yang ada.<br />
5.Menampakkan identifikasi, informasi, daya tarik dan tampilan yang jelas dari bahan pangan yang dikemas sehingga dapat membantu promosi/penjualan.<br />
6.Memberikan informasi melalui sistem labelling, bagaimana cara penggunaan produk, tanggal kadaluwarsa dan lain-lain.</span></p>
<p>Di antara bahan kemasan tersebut, plastik merupakan bahan kemasan yang paling populer dan sangat luas penggunaannya. Bahan kemasan ini memiliki berbagai keunggulan yakni, fleksibel (dapat mengikuti bentuk produk), transparan (tembus pandang), tidak mudah pecah, bentuk laminasi (dapat dikombinasikan dengan bahan kemasan lain), tidak korosif dan harganya relatif . Selanjutnya, disamping memiliki berbagai kelebihan yang tidak dimiliki oleh bahan kemasan lainnya, plastik juga mempunyai kelemahan yakni, tidak tahan panas, dapat mencemari produk (migrasi komponen monomer), sehingga mengandung resiko keamanan dan kesehatan konsumen, dan plastik termasuk bahan yang tidak dapat dihancurkan dengan cepat dan alami. Selain itu, bahan dasarnya tidak dapat diperbarui karena berasal dari hasil samping pengambilan bahan bakar minyak bumi.</p>
<p><span style="color:black"><strong>DAMPAK NEGATIF</strong></span></p>
<p>Saat ini, bahan kemasan plastik telah menimbulkan permasalahan cukup serius. Polimer plastik yang tidak mudah terurai secara alami mengakibatkan terjadinya penumpukan limbah dan menjadi penyebab pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup. Berbagai laporan menunjukkan, produk berbahan dasar plastik menjadi penyebab kerusakan lingkungan di pantai New Jersey, laut Sargasso dan pulau Scottish. Selain itu, plastik dalam proses pembuatannya menggunakan minyak bumi, yang ketersediaannya semakin berkurang dan sulit untuk diperbarui. Kondisi demikian menyebabkan bahan kemasan plastik tidak dapat dipertahankan penggunaannya secara meluas karena akan menambah persoalan lingkungan dan kesehatan diwaktu mendatang.</p>
<p>Meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan dan lingkungan lestari, mendorong dilakukannya penelitian dan pengembangan teknologi bahan kemasan yang dapat terdegradasi secara alami. Saat ini penelitian dan pengembangan teknologi bahan kemasan yang dapat terdegradasi secara alami terarah pada usaha membuat pengemas yang mempunyai sifat seperti plastik yang berbasiskan bahan alami dan mudah terurai.</p>
<p style="text-align: center"><img src="http://www.widianto.org/wp-content/uploads/2009/03/032409-0420-konseptekno3.jpg" alt="" /><span style="color:black"><br />
<span style="font-size:9pt"><em>Pengemas Biodegradable, ramah lingkungan</em></span></span></p>
<p><strong>SOLUSI UNTUK MENANGANI DAMPAK NEGATIF DARI PLASTIK<br />
</strong></p>
<p><span style="color:black">Saat ini penelitian diarahkan untuk membuat pengemas yang mempunyai sifat seperti kemasan plastik tetapi dibuat dari bahan yang dapat dihancurkan secara alami dan mudah didapatkan. Kemasan demikian diistilahkan sebagai kemasan masa depan. Sifat-sifat kemasan masa depan diharapkan mempunyai bentuk fleksibel namun kuat, transparan, tidak berbau, tidak akan mengkontaminasi bahan yang dikemas dan tidak beracun, tahan pemanasan, biodegradable, berasal dari bahan-bahan renewable dan ekonomis. Penelitian banyak dilakukan terhadap biopolimer yang berasal dari hasil pertanian, yaitu bahan yang tersusun dari komponen lemak, protein, karbohidrat atau gabungan dari ketiga unsur tersebut.</span></p>
<p>Pengemas dapat mengurangi kehilangan air (pengurangan berat) dengan demikian mencegah terjadinya dehidrasi, terutama bila digunakan bahan penghalang uap air. Hal ini merupakan keuntungan utama dari pengemasan untuk konsumsi yang dapat pula memperpanjang umur ketahanan komoditi yang bersangkutan. Kehilangan uap air yang disusul dengan laju atau susutnya barang jelas merupakan sebab hilangnya kesegaran. Hilangnya air mempengaruhi kenampakan, tekstur, dan harga jual.</p>
<p style="text-align: center"><span style="font-family:Verdana"><span style="color:blue"><strong>Edible Film</strong></span></span></p>
<p><img src="http://www.widianto.org/wp-content/uploads/2009/03/032409-0420-konseptekno4.jpg" alt="" /><br />
<em>Perhatikan lapisan lilin pada apel impor, itulah salah satu jenis edible film<br />
</em></p>
<p> </p>
<p>Pengemas yang banyak digunakan sekarang ini sebagian besar dapat menimbulkan pencemaran lingkungan, khususnya apabila dibuat dari bahan yang tidak dapat didaur ulang atau sulit mengalami biodegradasi, seperti plastik untuk meminimalkan pencemaran lingkungan, dapat digunakan pengemas alternatif yang tidak menimbulkan masalah bagi lingkungan yaitu edible film . Edible film dapat meningkatkan stabilitas dan kualitas makanan dengan berlaku sebagai penghalang minyak, oksigen, dan uap air. Selanjutnya, edible film merupakan bahan potensial pembawa antioksidan yang dapat meminimalkan atau mencegah adanya oksidasi lemak. Bahan yang biasa digunakan dalam pembuatan edible film adalah metilselulosa, lilin lebah dan plasticizer.</p>
<p><strong>Metilselulosa</strong><br />
Metilselulosa (MC) diperoleh dengan mereaksikan selulosa fiber dengan NaOH menjadi selulosa alkali. Selulosa alkali dibuat dengan cara perendaman dengan larutan basa pada serat selulosa kemudian direaksikan dengan metil eter berdasarkan reaksi eterifikasi Williamson pada 50-100°C dan tekanan 14 kg/cm2 selama beberapa jam. Hasil reaksinya adalah metileterselulosa. (Mekanisme reaksi eterifikasi Williamson dapat dilihat pada gambar 1). Metilselulosa berwarna putih, tidak berbau, tidak berasa, dan tidak bersifat toksik (Molekul metilselulosa dapat dilihat pada gambar 2). Protein dan polisakarida sering dihubungkan dengan substansi hidrofobik seperti lipid untuk meningkatkan efisiensi penghalangan. Hal ini menyebabkan pembuatan film sering melibatkan lipid.</p>
<p style="text-align: center"><img src="http://www.widianto.org/wp-content/uploads/2009/03/032409-0420-konseptekno5.gif" alt="" /><span style="color:black"><br />
Struktur Kimia Metilselulosa</span></p>
<p><strong>Lilin Lebah</strong><br />
Lilin adalah ester yang terbentuk dari asam lemak dengan alkohol monohidrat rantai panjang. Lilin lebah atau beeswax sebagian besar tersusun atas esterserilmiristat. Lilin lebah dibentuk melalui proses kimia dengan madu sebagai bahan baku. Lilin lebah, lilin carnauba dan parafin diketahui dapat meningkatkan resister transfer uap air pada film. Lilin lebah diperoleh dengan sentrifugasi madu dari sisiran sarang tersebut. Kemudian dicairkan dengan air panas dan uap lilin dapat dimurnikan dengan tawas diatomae dan karbon aktif, dikelantang dengan permanganat atau bikromat.</p>
<p><strong>Plasticizer </strong><br />
Plasticizer didefinisikan sebagai bahan nonvolatil, bertitik didih tinggi yang jika ditambahkan pada material lain akan merubah sifat fisik dari material tersebut. Penambahan plasticizer dapat meningkatkan kekuatan intermolekuler, meningkatkan fleksibilitas dan menurunkan sifat-sifat penghalangan edible film. Gliserol dan sorbitol merupakan plasticizer yang efektif karena memiliki kemampuan untuk mengurangi ikatan hidrogen internal pada ikatan intramolekular.</p>
<p style="text-align: center"><span style="color:blue"><strong>Pembuatan Edible Film</strong></span></p>
<p><img src="http://www.widianto.org/wp-content/uploads/2009/03/032409-0420-konseptekno6.jpg" alt="" /><br />
<em>Edible Film<br />
</em></p>
<p>Pembuatan larutan edible film dari selulosa adalah sebagai berikut: metilselulosa dilarutkan di dalam campuran air dan etanol (1:2). Etanol ditambahkan terlebih dahulu, dan diaduk dengan magnetik stirrer skala tiga selama sepuluh menit, kemudian diikuti dengan penambahan air dan tetap diaduk selama sepuluh menit. Metilselulosa yang sudah cukup larut dipanaskan di dalam penangas air pada suhu 85 derajat Celcius, selama 15 menit. Konsentrasi metilselulosa yang ditambahkan adalah 1,00% dan 1,25%. Kemudian larutan diaduk lebih cepat yaitu pada skala empat. Gliserol kemudian ditambahkan pada suhu 55-60 derajat Celcius. Lilin lebah ditambahkan setelah suhu mencapai 67-70 derajat Celcius. Pengadukan tetap dilakukan sampai lilin lebah larut sempurna. Konsentrasi lilin lebah yang dapat digunakan adalah 0,1%; 0,3%; dan 0,5%. Pemanasan dan pengadukan terus berlanjut hingga suhu mencapai 67-72 derajat Celcius, selama lebih kurang 30 menit. Larutan pembentuk film tersebut banyak mengandung gelembung-gelembung udara terlarut. Gelembung-gelembung udara akan tampak pada film yang telah kering seperti lubang-lubang yang mengganggu penampakan film dan hasil analisa. Oleh karena itu, gelembung-gelembung gas perlu dihilangkan dengan pompa vakum selama 3 menit. Proses ini berlangsung sampai gelembung udara tidak terbentuk lagi. Larutan yang dihasilkan didinginkan.</p>
<p style="text-align: center"><img src="http://www.widianto.org/wp-content/uploads/2009/03/032409-0420-konseptekno7.jpg" alt="" /><span style="color:black"><br />
<span style="font-size:9pt"><em>Alat untuk pelaspisan edible film ke makanan</em></span></span><span style="font-size:9pt"><em><br />
</em></span></p>
<p>Setelah larutan edible film terbentuk maka dapat dilakukan proses pelapisan. Proses pelapisan memerlukan dua macam larutan, yaitu ion kalsium klorida dan larutan edible film. Buah yang akan dilapisi dicelupkan beberapa detik ke dalam larutan kalsium klorida, kemudian ke larutan edible film. Pencelupan diulang dua kali. Beberapa menit kemudian, larutan mengering dan membentuk lapisan jernih di permukaan buah. Selanjutnya, buah dikemas dengan pengemas sekunder untuk dipasarkan.</p>
<p>Sumber : www.bluefame.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.widianto.org/2009/03/23/konsep-teknologi-plastik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
